Sejarah Kota Bandung

ERA PADJAJARAN

kabandungeuy.id - Ditahun 1488, Bandung yang kita kenal merupakan ibukota dari kerajaan Pajajaran. Tetapi dari temuan arkeologi, kota Bandung merupakan tempat tinggal dari Australopithecus atau Manusia Jawa. Yang tinggal di disekitar Cikapundung sebelah utara Bandung dan di pesisir Danau raksasa Bandung. Artefak bebatuan itu masih dapat ditemukan di daerah Dago atas dan Museum Geologi.

Sedangkan Suku yang yang menghuni Bandung dahulu adalah Suku Sunda yang merupakan masyarakat agamis dan hidup dari bercocok tanam. Mereka mengembangkan tradisi dakwah dan termasuk didalamnya yang masih dipraktikkan pertunjukan berbagai macam kesenian, diantaranya pertunjukan wayang golek. "Ada sebuah kota yang disebut Bandung, terdiri dari 25 sampai 30 rumah," ditulis oleh Juliaen de Silva di tahun 1614.

BEDIRINYA KOTA BANDUNG

Bandung awalnya ditemukan dalam rangka pencarian bahan baku dan lahan untuk perkebunan kopi oleh Abraham Van Riebeek pada tahun 1712.



Namun Kota Bandung tidak berdiri bersamaan dengan pembentukan Kabupaten Bandung. Melainkan Kota Bandung dibangun daam tenggang waktu yang sangat jauh setelah Kabupaten Bandung berdiri.
Kabupaten Bandung dibentuk pada sekitar pertengahan abad ke-17 Masehi, dipimpin oleh seorang Bupati yang pertama bernama Tumenggung Wiraangunangun. Beliau memerintah Kabupaten Bandung dari tahun 1641 hingga tahun 1684.

Awalnya Kabupaten Bandung beribukota di Krapyak atau sekarang lebih dikenal dengan Dayeuhkolot (dalam bahasa Sunda Dayeuh yang berarti Kota dan Kolot yang berarti Tua) kira-kira 11 kilometer ke arah Selatan dari pusat kota Bandung-sekarang.

Pembangunan kota Bandung tidak bisa di pisahkan dengan mega proyeknya Gubernur Jenderal Hindia Belanda Herman Willem Daendels atau Tuan Galak dalam membangun Jalan Raya Pos (Grote Postweg). Pada tahun 1799 -VOC mengalami kebangkrutan sehingga wilayah kekuasaannya di Nusantara diambil alih oleh pemerintah Hindia-Belanda, dengan Gubernur Jenderal pertama Herman Willem Daendels (1808-1811). Ketika itu Kabupaten Bandung dipimpin oleh bupati ke-6, yakni R.A Wiranatakusumah II (1794-1829) yang dijuluki "Dalem Kaum I". Untuk kelancaran dalam menjalankan tugasnya di Pulau Jawa, Daendels membangun Jalan Raya Pos (Groote Postweg) dari Anyer di ujung barat Jawa Barat ke Panarukan di ujung timur Jawa timur (kira-kira 1000 km). Pembangunan jalan raya itu dilakukan oleh rakyat pribumi di bawah pimpinan bupati daerah masing-masing.

Baca juga : Bupati yang memerintah Kabupaten Bandung

Jalan Raya pos mulai dibangun pertengahan tahun 1808, dengan memperbaiki dan memperlebar jalan yang telah ada. Untuk kelancaran pembangunan jalan raya, dan agar pejabat pemerintah kolonial mudah mendatangi kantor bupati, Daendels melalui surat tanggal 25 Mei 1810 meminta Bupati Bandung dan Bupati Parakanmuncang untuk memindahkan ibukota kabupaten, masing-masing ke daerah Cikapundung dan Andawadak (Tanjungsari), mendekati Jalan Raya Pos.

Daendels tidak mengetahui, bahwa jauh sebelum surat itu keluar, Bupati Bandung sudah merencanakan untuk memindahkan ibukota Kabupaten Bandung, bahkan telah menemukan tempat yang cukup baik dan strategis bagi pusat pemerintahan. Tempat yang dipilih adalah lahan kosong berupa hutan, terletak di tepi barat Sungai Cikapundung, tepi selatan Jalan Raya Pos yang sedang dibangun (pusat kota Bandung sekarang). Alasan pemindahan ibukota itu antara lain dikerenakan daerah Krapyak di rasa sangat menghambat jalannya roda pemerintahan sebab letak geografisnya yang rendah dan dalam kawasan luapan air sungai Citarum ketika musim hujan. Padahal daerah kekuasaanya sangat luas. Mencakup daerah Timbanganten, Gandasoli, Adiarsa, Cabangbungin, Banjaran, Cipeujeuh, Majalaya, Cisondari, Rongga, Kopo, Ujungberung, dan lain-lain, temasuk daerah Kuripan, Sagaraherang dan Tanah medang.

Sekitar awal tahun 1809, Bupati beserta sejumlah rakyatnya pindah dari Krapyak mendekali lahan bakal ibukota baru. Mula-mula bupati tinggal di Cikalintu (daerah Cipaganti), kemudian pindah ke Balubur Hilir, selanjutnya pindah lagi ke Kampur Bogor (Kebon Kawung, pada lahan Gedung Pakuan sekarang).

Kota Bandung dibangun bukan atas prakarsa Daendels, melainkan atas prakarsa Bupati Bandung, bahkan pembangunan kota itu langsung dipimpin oleh bupati. Dengan kata lain, Bupati R. A. Wiranatakusumah II adalah pendiri (the founding father) kota Bandung.

Daendels mengirim surat kepada Bupati R. A. Wiranantakusumah II Untuk memindahkan ibu kota kabupaten Bandung dari Krapyak (Dayeuh kolot) mendekati Jalan Raya Pos. berdasarkan Besluit Pemerintah Hindia Belanda pada 25 september 1810 itu. Sekarang diperingati menjadi hari berdirinya kota Bandung.

Deandels tidak pernah menyangka saat menancapkan tongkatnya ketika peresmian jembatan Cikapundung sambil memerintahkan pegawainya membangun kota, istilah Belandanya “Zorg, dat als ik terug komhier een stad is gebouwd” yang artinya Usahakan, bila aku datang kembali kesini sebuah kota telah dibangun. Yang sekarang di jadikan tugu “nol km”
Dan ternyata Bandung telah tumbuh dan berkembang dengan pesat, ditandai dengan pembangunan Pendopo Walikota yang menjadi awal Berdirinya Kota Bandung. Padahal hingga pertengahan abad 19 Bandung masih dikenal sebagai een kleine berg dessa (desa pegunungan nan mungil)
Pembangunan kota bandung terus berlanjut saat dilaksanakannya proses pemindahan ibukota Priangan dari Cianjur ke Bandung pada tahun 1864.

LETAK GEOGRAFIS

Letak geografis Bandung Daerah tingkat II terletak diantara 6 derajat 41’ sampai 7 derajat 19’ Lintang Selatan dan 107 derajat 22’ sampai 108 derajat 5’ Bujur Timur, pada ketinggian 110m sampai 2.429 mdpl.
Secara topografis Kota Bandung terletak pada ketinggian 768 meter di atas permukaan laut, titik tertinggi di daerah Utara dengan ketinggian 1.050 meter dan terendah di sebelah Selatan adalah 675 meter di atas permukaan laut
Luas wilayah 167.67 km2 (64.74 sq mi), koodinat 6°57′S 107°34′E & #20;/6.95°S 107.567°E/-6.95; 107.567. Batas wilayah administrasi sebagai berikut:
Sebelah Utara : kab. DT II Purwakarta dan Subang
Sebelah Timur : kab. DT II Sumedang dan Garut
Sebaelah Selatan : kab. DT II Garut dan Cianjur
Sebelah Barat : kab. DT II Cianjur.

ERA KOLONIALISME BELANDA

Banyak sekali bangsa Eropa datang ke Bandung untuk mencoba peruntungan mereka di daerah subur dan makmur itu, akhirnya tercapai di tahun 1786 ketika sebuah jalan dibangun untuk menghubungkan Jakarta, Bogor, Cianjur dan Bandung. Jalur lama tersebut dikembangkan ketika Raja Belanda, Louis Napoleon, memerintahkan Gubernur Jenderal H.W. Daendels, pada tahun 1809 untuk meningkatkan pertahanan di Jawa melawan Inggris. Visinya adalah sebuah rantaian unit pertahanan militer dan sebuah jalan pasokan antara Batavia dan Cirebon, dan akan lebih mudah untuk membangun jalan lebih ke selatan, melintasi dataran tinggi Priangan.

The Groote Postweg (Jalan Pos Besar) dibangun 11 mil ke utara dari ibukota Bandung. Ibukota kabupatenpun segera dipindahkan, mendekati jalan tersebut. Bupati Wiranatakusumah II memilih selatan jalan Groote Postweg di Western Bank Cikapundung dan dekat sumur suci. Sumur Bandung, yang diyakini dilindungi oleh Dewi Nyi Kentring Manik. Dilokasi ini Dalem Kaum membangun istananya dan pusat kota. Berdasarkan pengaturan tradisional atau Mapacet, Mesjid Agung ditempatkan di sebelah barat, dan pasar rakyat di sebelah timur. Kediaman dan Pendopo berada di selatan menghadap ke gunung Tangkuban Parahu. Disanalah kota kembang lahir.

Lihat juga: Museum POS

Sekitar pertengahan abad ke-19, Kina Amerika Selatan, teh Asam, dan kopi mulai diperkenalkan dan dibudidayakan di dataran tinggi Priangan. Sehingga diakhir abad, Priangan terdaftar sebagai daerah perkebunan tersubur. Melihat prospek bisnis yang sangat menguntungkan, di tahun 1880 rel kerata api segera dibangun guna mempermudah sarana tranfortasi dan pengiriman hasil bumi dari Bandung ke Jakarta dan dikirim ke Eropa. Kereta api tersebut menjanjikan 2 1/2 jam perjalanan dari Batavia ke Bandung.

Dengan perubahan gaya hidup di Bandung, dan emakin banyaknya kaum bangsawan yang datang ke Bandung. Hotel, cafe, toko berkembang pesat untuk melayani kebutuhan para pekebun yang turun dari perkebunannya atau yang naik dari Batavia ke daerah Bandung. Banyak diantaranya menghabiskan aktifitas akhir pekan dengan berkumpul Concordia. Menginap di Hotel Preanger dan Savoy Homann yang merupakan pilihan utama hotel dan berbelanja di pertokonan eksklusif Eropa yang berjajar di jalan Braga.

Dengan adanya jalur kereta api, industri kecil menjamur. proses pengolahan rempah-rempah sebelum dikirim ke Eropa bisa langsung dilakukan secara efisien di Bandung. Bangsa Cina saling berdatangan untuk membantu menjalankan roda ekonomi dengan menjual mesin dan memberikan pelayanan ke industri baru.

Ditahun pertama abad 20, Pax Neerlandica diproklamasikan, yaitu pemindahan pemegang pemerintah dari militer menjadi pemerintahan sipil. Dengan adanya kebijakan desentralisasi untuk meringankan beban administrasi pusat, yang juga menjadikan Bandung sebagai kotamadya di tahun 1906.

Hal berdampak dampak besar bagi kota. Balai kota dibangun di ujung utara Braga untuk mengakomodir pemerintahan baru, yang terpisah dari sistem aslinya. Kemudian diikuti dengan pembangunan skala yang lebih besar ketika markas besar militer dipindahkan dari Batavia ke Bandung sekira tahun 1920. yang didirikan di sebelah timur Balai Kota dan terdiri atas kediaman untuk Komando Kepala, Kantor, Barak dan perumahan dinas militer.

Perencanaan pemindahan ibukota Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung telah matang, kota Bandung diperluas hingga ke daerah utara. Daerah ibukota ditempatkan di sebelah timur laut, sebuah daerah yang merupakan pesawahan, dan sebuah jalan besar direncanakan sejauh 2.5 km menghadap gunung Tangkuban Parahu dengan Gedung Sate di ujung selatan dan munumen kolosal diseberangnya. Dikedua sisi gedung bulevard besar tersebut dibangun rumah kantor raksasa pemerintah kolonial.

Kampus Technische Hoogeschool dan tamannya merefleksikan kejeniusan arsitek Henri Maclain Pont. Kampus tersebut didirikan atas dorongan kebutuhan akan tenaga terlatih profesional Bagian barat daya digunakan untuk rumah sakit kotapraja dan Institut Pasteur, didekat pabrik kina. Pada tahun pendek tersebut sebelum meletusnya Perang Dunia II merupakan jaman keemasan Bandung

 SETELAH KEMERDEKAAN

Pada tanggal 24 Maret 1946 merupakan masa keterpurukan kota Bandung, Pembumihangusan Bandung oleh para pejuang kemerdekaan yang dikenal dengan sebutan 'Bandung Lautan Api' dan diabadikan dalam lagu "Halo-Halo Bandung".

Setelah Indonesia merdeka, Bandung menjadi ibukota Propinsi Jawa Barat. Bandung semakin dikenal dunia saat diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika yang pertama di Bandung pada tanggal 18-24 April 1955 dengan tujuan mempromosikan kerjasama ekonomi dan kebudayaan diantara negara-negara Asia Afrika, dan menangkal perlakuan kolonialisme atau kolonialisme baru dari Amerika Serikat, Uni Soviet, atau negara penjajah baru.

Hingga tercipta Dasa Sila Bandung yang menjadi semangat angsa-bangsa di Asia dan Afrika untuk menjadi bangsa yang bebas dan merdeka, seperti pernyataan yang tertuang tersebut yang isinya sebagai berikut;

DASA SILA BANDUNG

1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta azas-azas yang termuat dalam Piagam Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB)
2. Menghormati kedaulatan dan integritas territorial semua bangsa.
3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa besar maupun kecil
4. Tidak melakukan campur tangan atau intervensi dalam soal-soal dalam negeri negara lain
5. Menghormati hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri sendiri secara sendirian maupun kolektif, yang sesuai dengan piagam PBB.
6. a. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara-negara besar.
b. Tidak melakukan tekanan terhadap Negara lain.
7. Tidak melakukan tindakan atau ancaman agresi, maupun pengguaan kekerasan terhadap integritas territorial atau kemerdekaan politik suatu negara.
8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan cara damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrase atau penyelesaian masalah hokum, ataupun lain-lain cara damai, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan, yang sesuai dengan piagam PBB.
9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama.
10. Menghormati hokum dan kewajiban-kewajiban internasional.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Sejarah Kota Bandung"

Post a Comment

hallo agan, silahkan berkometar secara bijak dan santun