HAJI KOKO KOSWARA


Badminton
Badminton dimana-mana (man, dimana-mana seuyah)
Di kampong jeung dikota (dikanpung jeung dikota)
Badminton jeung suka-suka (suka, bari jeung suka-suka)
Panglipur manah jeung brangta (olah raga)
Di smes -bari ngajungkung
Di cop -raket nyangigir
Di lob -apung-apungan
Bekhen -ti Beulah kenca
Di smes -kana net nyangsang
Di cop -bulu kok coplok
Kleinspel -ulin leutik keketrekan
Siapa yang tidak tahu lagu tersebut, yang begitu popular di telinga masyarakat. Dahulu lagu tersebut di ciptakan oleh seniman yang biasa lekat dengan kecapinya mang Koko dan berfatner dengan Mang Dekot yang menghibur penonton televise yang kala itu hanya TVRI yang menjadi satu-satunya statsiun televise di Indonesia
Biasa di sapa Mang Koko atau bernama lengkap Haji Koko Koswara, lahir di Tasikmalaya pada 24 November 1915. Mang Koko merupakan anak tunggal dari pasangan Muhammad Ibrahim Sumarta dan Siti Hasanah. Jiwa seninya mengalir dari darah ayahnya yang merupakan seniman cianjuran.
Setelah menjadi murid HIS mangkoko meneruskan sekolahnya di MULO Mang Koko terus mendalami seni karawitan. Kemudian beliau membuka Gapura Seni Karawitan Sunda sampai menciptakan karawitan Wanda (gaya) baru garapan Mang Koko.
Dari Tasik Mang koko hijjrah ke Bandung untuk memperdalam lagi pengetahuannya tentang Karawitan..di Bandung Mang koko berhasil menuliskan beratus-ratus lagu, yang tertulis sekitar 400 lagu karyanya. Diantara karyanya ada yang berjenis sekar gending yang di peruntukan berbagai usia, Drama Suara atau Gending Karesmen, Sekar Caturan, Layeutan Suara dan Winangun Poutpuri. Karya Mang Koko tersebar dimana-mana mulai dari kanca Indihiang, gamelan Mundinglayang, Sekar Caturan atau Cangkurileung, Taman Bicarung dan Ganda Mekar.
Mang koko adalah seniman segala bisa yang sadar betapa pentingnya kepustakaan, beliau menulis buku Cangkurileung (3 jilid), Sekara Mayang, Resep Mamaos, Taman Bicarung, dan Bentang Sulintang yang tentunya berisi tentang seni. Mang kokopun adalah seniman yang peduli pada syair lagu. Beberapa karnyanya menyadur dari beberapa puisi karya pengarang termasyur seperti Wahyu Wabisana, Dedi Winiagiri, Winarya Artadinata dll.
Semenjak bekerja di Kementrian Penerangan Bandung. Mang koko tahu caranya bagaimana mengenalkan kesenian pada masyarakat. Selain pAgelaran seni, beliaupun terjun dalam dunia pendidikan agar siswa mengenal seni karawitan.
Keinginan Mang Koko yakni agar para seniaman mempunyai gelar sarjana agar tak hanya bergelar “mang” (paman) saja. Dan akhirya terwujud pada tahun 1971 beliau berhasil mendirikan Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) yang dikelola oleh yayasan Cangkurileung.
Hingga setelah 3 tahun ASKI bergabung dengan Akademi Seni Tari (ASTI) di Bandung hingga menjadi Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) hingga bermunculanlah sarjana karawitan atau S. Kar.


















Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "HAJI KOKO KOSWARA"

Post a Comment

hallo agan, silahkan berkometar secara bijak dan santun