BUMI ALIT KABUYUTAN

sumber http://bumialitkabuyutan.blogspot.co.id/

Bangunan atau rumah beratap menjulang ngapak yang menjadi simbol keberadaan nenek moyang orang Sunda ini, berdiri diatas areal tanah kurang lebih 5000 m², namun bangunannya sendiri hanya berukuran 42 m². lingkungannya yang sangat asri, dengan terdapat banyak pohon langka yang tumbuh.
Dalam kamar Bumi Alit Kabuyutan terdapat benda-benda pusaka yang memiliki kekuatan gaib, seperti keris, kujang, gobang (golok panjang yang menyerupai samurai) dan tombak.
Telah menjadi tradisi bagi masyarakat Desa Lebakwangi dan Desa Batukarut Kec. Arjasari Kab. Bandung Masyarakat di dua desa yang disebut seuweu siwi (keturunan) itu mengeluarkan Benda-benda pusaka dan dicuci dengan air kelapa saat pada tanggal 12 bulan Rabiul Awal atau Maulid Nabi Muhammad saw Prosesi ritual dimulai dengan ngarumat barang pusaka pada pagi hari, pukul 07.00 WIB. Ada enam pusaka yang dibersihkan, yakni sumbal, gobang, keris, pedang, wangkingan, sekin, dan kujang. Selain enam pusaka yang merupakan senjata khas orang Sunda, gamelan goong renteng pun ikut dibersihkan. Di ikuti dengan ceramah keagamaan Yang menarik, dan dinanti-nanti masyarakat Lebakwangi dan Batukarut adalah saat doa maulud dilaksanakan. Masyarakat yang membawa tumpeng pada acara itu, menunggu kalimat "kobulan hasanah" dari ustaz yang membacakan doa. Saat kalimat itu diucapkan, masyarakat mengulangnya sambil mengambil congcot atau ujung lancip tumpeng yang dibawanya. Congcot tumpeng itu disebut cangkaruk mulud, yang diyakini membawa khasiat tersendiri. Konon, cangkaruk mulud itu digunakan masyarakat Lebakwangi dan Batukarut ketika datang hujan dan angin besar yang mungkin mengancam jiwa manusia
Setelah acara ngarumat berlangsung, diselenggarakan pergelaran goong renteng. Menariknya, goong renteng ini memiliki laras tersendiri, berbeda dari laras gamelan Sunda pada umumnya. Sebelum gamelan itu ditabuh, gamelan itu dicocokkan dulu nadanya dengan dimasuki tanah bagian bawahnya.
Upacara tersebut diselenggarakan untuk mengingat jasa dan perjuangan leluhur masyarakat Panjalu, yakni Prabu Sanghiang Borosngora yang merupakan penyebar agama Islam pertama didaerah ini. Melalui pusakanya itu, Sanghiang Borosngora berpesan kepada anak cucunya jika ingin melihatnya tidak perlu mencari di mana ia berada, tetapi cukup dengan melihat benda-benda pusakanya.
Situs Bumi Alit Kabuyutan merupakan cagar budaya yang tidak dijadikan objek wisata, karena apabila dijadikan tempat wisaa kesakralannya akan hilang.
Selain itu benda pusaka, di kamar itu juga dijadikan sebagai tempat menyimpan berbagai sesaji yang dibawa peziarah.
Setiap malam Kamis dan Senin ada peziarah yang datang untuk bersemedi. Rata-rata mereka datang dengan segala masalah dan kesusahan, seperti masalah rumah tangga, jodoh, atau ingin usahanya lancar. Mereka membawa sesaji berupa kopi pahit, telur ayam kampung, kelapa muda, ketan, dan lain-lain,
Para pejiarah berpendapat, bersemedi di Situs Bumi Alit Kabuyutan bukanlah kegiatan yang musyrik karena pada intinya mereka memohon kepada Allah SWT, bukan kepada makhluk gaib atau sejenisnya. Benda-benda sesaji yang disyaratkan tersebut memiliki makna filosofis tertentu yang mendukung kegiatan semedi.







Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BUMI ALIT KABUYUTAN"

Post a Comment

hallo agan, silahkan berkometar secara bijak dan santun