BELUK, 40 hari

Budak leutik bisa ngapung
Babaku ngapungna peuting
Kuriling kakalayangan
Neangan nu amis-amis
Sarupaning bungbuahan
Naon bae nukapanggih

(anak kecil bisa terbang
Terbangnya setiap malam
Berputar-putar melayang-melayag-layang
Mencari yang manis-manis
Sejenis buah-buahan
Apa saja yang ditemukan)
Kutipan diatas adalah Pupuh Kinanti salah satu Pupuh dalam kesenian Beluk yang kira-kira begitulah Pupuh diatas bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia.
download (2)
Kesenian Beluk memang sangat jarang ditemukan, tetapi anda dapat menjumpainya di Desa Banjaran, letaknya 18 km dari arah selatan Bandung. Beluk menurut istilah berasal kata dari “Celuk” yang artinyA berteriak, memanggil. Konon orang-orang sunda jaman dahulu melakukan kebiasaan ini dikala tengah malam, ketika mereka sedang menjaga tanamannya dari wabah hama. Dan “Ngacelukan” atau kebiasaan memanggil-manggil ini biasa dilakukan dari satu saung (pematang) ke saung yang lainnya dalam satu huma.
Hingga lama-kelamaan dalam suatu proses kebiasaan ini mengalami perubahandan diterima oleh masyarakat menjadi salah satu kesenian daerah Sunda.
Beluk mirip dengan nyanyian akapela, namun syairnya berisikan cerita dan sejarah. Keseluruhan lirik lagunya disebut Pupuh.
Setiap Pupuh mempunnyai Wanda (gaya). Misalnya Pupuh Asmarandana, lirik Pupuh ini menceritakan kehidupan manusia yang tengah dilanda cinta dan birahi. Pupuh Durma liriknya menceritakan tentang kisah peperangan. Pupuh Pungkur liriknya berisikan ungkapan-ungkapan kemarahan manusia pada suatu peristiwa dalam kehidupan. Pupuh Wirangrong dan Pupuh Maskumambang lebih kepada ungkapang-ungkapan kesedihan karena ditinggal sanak saudaranya. Pupuh Dangdanggula atau Mamanis liriknya penuh dengan ungkapan kesenangan karena telah lahir anggota keluarga baru/ bayi. Pupuh Sinom liriknya banyak ungkapan-ungkapan memuji keindahan alam dan memuji Sang Pencipta.
Pupuh Balakbak, menggambarkan banyolan atau gurauan. Pupuh Gambuh, menggambarkan kesedihan atau perasaan sakit. Pupuh Gurisa, menggambarkan manusia yang sedang berkhayal atau berandai-andai. Pupuh Jurudemung, menggambarkan kebingungan atau kesusahan. Pupuh Lambang, menggambarkan gurauan yang membuat kita berpikir atau mengandung falsafah hidup. Pupuh Magatru, menggambarkan rasa sedih dan penyesalan atas apa yang telah di perbuat. Pupuh Mijil, menggambarkan kesedihan beserta harapan untuk kembali bangkit dan bersabar. Pupuh Pucung, menggambarkan amarah terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan hati nurani. Pupuh Ladrang, menggambarkan gurauan yang menyindir. Dan yang terakhir adalah Pupuh Kinanti, yang biasanya dinyanyikan sambil menanti anggota keluarga yang belum kembali atau menanti kelahiran si jabang bayi.
Semua Pupuh tersebut dinyanyikan semalam suntuk di mulai ba’da Isya, dalam acara tertentu atau selama 40 hari setelah bayi lahir.




















Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "BELUK, 40 hari"

Post a Comment

hallo agan, silahkan berkometar secara bijak dan santun